GubuK CakMamed

Setelah Deru Desing Mereda (sisa sisa 45)

Posted in Uncategorized by cakmamed on November 26, 2008

“dek Jaman berjuang .. jur kelingan Anak Lanang …
Biyen tak openi njur saiki ono ngendi .. “
“Jarene wes menang Keturutan seng di gadhang ..
Mbiyen ninggal janji, yen saiki opo lali …”

*Di jaman perjuangan saat kuteringat putraku
Kala itu masih ku rawat tapi kini entah dimana
*Menurut kabar sudah Menang (perang sudah usai),
tercapailah apa yang di cita-citakan (kemerdekaan).
Dulu pernah berjanji, saat ini apa sudah lupa.

Sayup terdengar syair tembang “caping gunung” dalam bilik bambu, menambah hening sunyi ketika “damar” sebagai penerang yang tak sanggup melawan gulita malam. Memang, tidaklah sebanding dengan rasa sepi sebuah hati akan penantian.

Dan sampailah pada suatu masa, seorang ibu kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, para istri mencari suaminya, suami mencari sisa keluarganya, kekasih kemana belahan jiwamu pergi, dan ibu pertiwi !! … merelakan putra-putrinya pergi? .

“Saya serah khen tanggung jawab keamanan Soerabaya pada anda-anda” pesan dari pemimpin sambil berjabat tangan dengan beberapa tokoh pemuda. Beberapa waktu sebelum hari itu terjadi.

10 November 1945 pagi. “TuuueeeEETT” *suara Sirine.
Mak jeBLUM !!, jeGLEEeeeER.

Soerabaya berselimuti kabut.

Bukan !! itu hanya asap yang mengepul saat bom – bom sisa “cuci gudang PD II” deras menghujan gedung-gedung. O walah Rek – Rek.., sepertinya terbukti sudah selebaran dari langit, untuk menyerahkan senjata hasil rampasan dari tentara jepang, menyerahkan pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Jendral Malleby, sampai batas waktu tanggal 10 november. Soerabaya akan di gempur dari darat laut dan udara, di bumi hanguskan !. Terjadilah.

“klothok – khotok dudhuk … klothok-klothok dudhuk.” “BANDheNG..!!”
Gambaran perbandingan suara senjata, pejuang vs NICA , iwak klothok (ikan pedak) dan ikan Bandeng. Selayak irama pentatonik yang mengiringi tarian Gandeng – rerenteng para pengungsi.

Adalah Waktu itu.  Wak Karim, bercerita.

Seperti biasa duduk di pojok-an warung kopi ‘Giras’ milik Cak Man. Sehari hari waktunya dihabiskan di warung yang menurut kabar akan terkena penggusuran bangunan pinggir kali , sebagai upaya mewujudkan Surabaya bersih Ijo dan Nyaman , alias Beriman.

Bukan karena bapak tua ini banyak duit, tapi berharap ada teman , kerabat atau orang yang kenal lewat atau mampir ke warung, lumayan bisa ditraktir segelas kopi dan satu potong pisang goreng. Sukur-sukur nasib awak lagi mujur ada orang yang berbaik hati memberi rokok GudangGarem Klobot kesuka-annya. Ayem, Uenak Pol.
Cerita masa lalunya sering di”tanggap” -*didengar para member warung. Banyak dari mereka yang terenyuh , kagum. Malah dulu pernah saat ada perayaan hari Pahlawan, wak Karim di daulat untuk bercerita tentang kisah perjuangannya ,”satu jam bersama wak Karim”.  Lumayanlah dapat “sangu”-*uang saku dari pak eRWe.
Tapi ada juga beberapa “Arek Nom Noman” – *pemuda yang menganggap wak Karim seperti tukang jamu yang sering “show” di pinggiran Gelora Tambak sari.
Ngge – da brus alias BUSTER *ngoBus-se banTer - *omong doang . ck ck ck

Tak banyak sumber cerita tentang lelaki tua, kurus ,kulit hitam, tinggi ,berbaju batik kusam dan bersarung ini. Dari cerita cak Man pemilik warung, wak Karim muda (cak Karim) adalah salah satu pemuda rakyat yang ikut terlibat secara langsung peristiwa 10 November ’45.

Dengan bersenjata senapan hasil rampasan dari gudang DON BOSCO milik Nippon, cak Karim dan Arek – arek daerah mBubutan harus menjadi pagar hidup menahan gempuran sekutu dari arah utara, Ujung, Tanjung Perak. Senjata Moderen dari kapal-kapal Enggris secara jumawa berbenturan dengan rumah, karung pasir, “gledhekan” – *gerobak sayur , becak dan dada – dada telanjang Arek arek suroboyo.

*mak krePesh !!! Kampung Maspati “Enthek Resik” – *luluh lantak menurut ceritanya.

Dari “lambene”- *mulut cak Man pemilik warung , setelah perang berakhir wak Karim kehilangan keluargannya. Isunya istrinya meninggal saat kampungnya dibumi hanguskan.

Tapi menurut khabar yang dapat dipercaya istrinya di kawin sama seorang “carik” di daerah pelosok NgaLam. Yang tak lain dan tak bukan bekas teman seperjuangannya. Yang pernah pada episode lain cerita wak Karim, dikisahkan ada seorang teman dimasa perjuangan, “Nggelibetnya” di dapur umum thok.
Loh khan perjuangan tidak harus digaris depan toh ?!? di meja perundingan ,di tempat pengasingan dan tak ketingangan berjuang di dapur umum. gLek!.

Dan pada kenyataannya perjuangan digaris depan memberi kontribusi dan nilai nilai penting pada perjuangan di “garis belakang”. Setidaknya teman cak Karim bisa mengambil peran dalam perjuangan sekaligus keuntungan.
Kembali ke kisah istri wak Karim,
ya ndak bisa disalahkan juga istri wak Karim, sebelumnya khan sempat tersiar khabar bahwa cak Karim dan yang lainnya gugur. Jadi dari pada sengsara terlunta-lunta dan jadi korban para germo-germo oportunis, ya terpaksa menerima pinangan teman cak Karim.

Malam larut dengan irama gerimisnya. Yang tepat “kemulan” – *berselimut sarung saat angin laut diboncengi dengan hawa dingin. Berrr.
Warung cak Man yang biasanya rame “Kok dungaren”-*tumben sepi.

“Uwes nGopi tha Wak” sapa cak Man waktu melihat wak Karim melamun sendirian.
“uWes Man, barusan habis segelas” jawab wak Karim. Beberapa hari ini memang terlihat melamun tidak seperti biasanya suka bercanda dan terlihat bersemangat.
“Ada apa sih wak ?”. “pengin kawin lagi ?” canda Cak Man memancing pembicaraan. Wak Karim tersenyum, dan mulai bertutur.
“Ada yang harus disampaikan”. Sambil menarik nafas.
“Aku pikir setelah mempertahankan kemerdekaan dari sekutu, perjuanganku melawan penjajahan sudah selesai.
Ternyata bagi orang orang sepertiku, kemerdekaan terasa berhasil merubah wajah penjajahan. Dengan kondisiku sekarang, kemerdekaan memaksa kami ke medan perang *untuk berjuang lagi. Untuk perutku yang lapar, untuk berteduh dari terik dan hujan, untuk sebuah pengakuan atas perjuangan *walau kami tak memerlukan.
Menjadi berarti dan tidak sia-sia.

Cak Man pemilik warung mendelik, kaget .
Sepertinya wak Karim merubah settingan “serius Mode :ON”.

“Dulu masa perjuangan tahon 45, enak banget”
“Selama digaris depan, setiap pagi kami dikirim makan gratis”
nasi bungkus, “PohonG” – singkong rebus, nGopi. “wes “ apa yang ada lah, “pokok E”. Gak perlu susah susah kerja , cerita wak Karim.

Dulu,
Kami peduli satu sama lain,
Saling membantu satu sama lain,
merawat satu sama lain
bahu membahu berjuang bertaruh nyawa.
Sekarang,
kita tidak mengenal satu sama lain.

“Sampeyan, habis ditagih utang tha Wak ? ” tanya Cak Man , masih merasa aneh.
“Utang, enDAsmu itu !!!” jawab wak karim , mulai tertawa.

“Setelah masa perjuangan berlalu”
.”Kesibukan mengisi atau lebih tepatnya memanfaatkan kemerdekaan membuat kita berjuang sendiri sendiri, hingga tumbuh jiwa – jiwa penjajah secara alami. “Tercipta pertempuran antar sedulur”.
Memang ndak ada Bom, Tembak-an, kerusakan gedung, penyobek-kan bendera.
Tapi Nilai dan arti perjuangan , rasa setiakawan “maWot Kabeh” –*hilang.
Kerusakan yang lebih besar. Pertempuran tanpa kemenangan.
Persaingan hidup.

“Kemerdekaan hanya untuk segelintir orang yang pintar mengambil keuntungan dari masa kemerdekaan”. Sebagian besar hanya menaruh harapan dari yang lain.

Tidak semua orang sepertiku dapat “Pangalem mBono”-*penghargaan
Bagi kami cukuplah bisa melihat kemerdekaan ini dinikmati anak cucu, dengan keringat,air mata dan darah yang menetes dibumi ini sebagai saksi persembahan kami. Pitutur Wak Karim Selesai.

Selang waktu berlalu,

Seperti biasa warung cak Man ramai dikunjungi langganan. Ngobrol ngalor-ngidul , guyonan. Semua sibuk dengan apa yang telah mereka dapat. Sempat terdengar beberapa orang menanyakan khabar dimana wak Karim berada, meski mereka tak sepenuhnya merasa kehilangan.

“Ning gunung
Tak jadongi sega jagung
Yen mendung
Tak silihi caping gunung”

*Saat di gunung,
diberi bekal nasi jagung
Saat langit mendung,
Aku pinjami caping gunung

“Sukur bisa nyawang
Gunung desa dadi reja
Dene ora ilang
Gone padha lara lapa”

*Syukur sekarang bisa dilihat / dinikmati
Gunung di desa sudah ramai (*Hasil dari perjuangan)
Hingga tak seharusnya dilupakan
Tempat kita susah dan lapar.

Caping Gunung , karya Gesang

Tulisan Cakmamed untuk mengenang perjuangan Arek-Arek Suroboyo

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. aria said, on December 3, 2008 at 12:19 am

    “klothok – khotok dudhuk … klothok-klothok dudhuk.” “BANDheNG..!!”

    trus dari udara terdengar suara “cucut…cucut..cucut”
    menghujam ke bumi
    “PAAAAUUUUSSSS !!!!!!!!!!”

    hingga bertebran serpihan serpihan besi tajam ..”teri…teri…teri…teri”

    cak, abis baca ini kok jadi laper ya..madang seek yo !!!

  2. aria said, on December 4, 2008 at 1:40 am

    Rasa setiakawan yang “maWot Kabeh” ntu cak

    kayaknye sekarang ni kagak “Kabeh” deh
    soalnye..gwe rada seneng sekarang persatuan khususnye di mbumi endonesia ni mulai bangkit
    rakyat semakin kritis pada pembangunan dan potensi diri
    karena punya kesamaan nasib dari terhimpitnya keadaan

    gak yang kaya dan miskin sama sama pusing ma duit yang semakin dikit
    jadi kudu inopatip dengan menyatukan pisi dan misi

    meskipun masih ada indipidu indipidu yang mbandel untuk jalan ndiri ndiri seeh

    btw dulu kata pemerintah Indonesia “krisi moneter”
    trus “krisis multi dimensi”
    sekarang indonesia “krisis global”
    krisis mulu yak….????

  3. cakmamed said, on December 4, 2008 at 1:50 am

    Klarifikasi seperti ini mas yang kita butuhkan ,
    secara kita generasi muda yang menjadi bukti
    bahwa perjuangan para Cak Karim (baca:Pahlawan tak dikenal)
    tidak sia – sia.

    Saya semakin salut sama Mas Aria :)
    Anyway trims atas kunjungannya dan mohon maaf blognya belum saya Update.
    :-D

  4. SI_IKIN said, on February 4, 2009 at 8:56 pm

    wah bisa jadi inspirasi cerita film animasi

  5. cakmamed said, on February 5, 2009 at 4:26 am

    Terima Kasih Atas Kunjungannya Pak/Mas SI_IKIN
    :) ,

    Wah ide untuk bikin animasi boleh juga tuch,
    ngomong2x sutradara ya :)

    Salam Kenal Dari saya :)

    Cakmamed


Leave a Reply