Setelah Deru Desing Mereda (sisa sisa 45)
“dek Jaman berjuang .. jur kelingan Anak Lanang …
Biyen tak openi njur saiki ono ngendi .. “
“Jarene wes menang Keturutan seng di gadhang ..
Mbiyen ninggal janji, yen saiki opo lali …”
*Di jaman perjuangan saat kuteringat putraku
Kala itu masih ku rawat tapi kini entah dimana
*Menurut kabar sudah Menang (perang sudah usai),
tercapailah apa yang di cita-citakan (kemerdekaan).
Dulu pernah berjanji, saat ini apa sudah lupa.
Sayup terdengar syair tembang “caping gunung” dalam bilik bambu, menambah hening sunyi ketika “damar” sebagai penerang yang tak sanggup melawan gulita malam. Memang, tidaklah sebanding dengan rasa sepi sebuah hati akan penantian.
Dan sampailah pada suatu masa, seorang ibu kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, para istri mencari suaminya, suami mencari sisa keluarganya, kekasih kemana belahan jiwamu pergi, dan ibu pertiwi !! … merelakan putra-putrinya pergi? .
“Saya serah khen tanggung jawab keamanan Soerabaya pada anda-anda” pesan dari pemimpin sambil berjabat tangan dengan beberapa tokoh pemuda. Beberapa waktu sebelum hari itu terjadi.
10 November 1945 pagi. “TuuueeeEETT” *suara Sirine.
Mak jeBLUM !!, jeGLEEeeeER.
Soerabaya berselimuti kabut.
Bukan !! itu hanya asap yang mengepul saat bom – bom sisa “cuci gudang PD II” deras menghujan gedung-gedung. O walah Rek – Rek.., sepertinya terbukti sudah selebaran dari langit, untuk menyerahkan senjata hasil rampasan dari tentara jepang, menyerahkan pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Jendral Malleby, sampai batas waktu tanggal 10 november. Soerabaya akan di gempur dari darat laut dan udara, di bumi hanguskan !. Terjadilah.
“klothok – khotok dudhuk … klothok-klothok dudhuk.” “BANDheNG..!!”
Gambaran perbandingan suara senjata, pejuang vs NICA , iwak klothok (ikan pedak) dan ikan Bandeng. Selayak irama pentatonik yang mengiringi tarian Gandeng – rerenteng para pengungsi.
Adalah Waktu itu. Wak Karim, bercerita.
(more…)
Arsitektur Aplikasi 3-tiers, dari lubang bilik cakmamed
Dalam membangun suatu sistem yang terintregasi, pilihan model arsitektur aplikasi menjadi sangat penting.
Hal ini berkaitan dengan beberapa faktor penentu pengembangan suatu sistem,diantaranya :
1. Produktifitas
Membangun suatu sistem, mulai dari Perencanaan awal konsep dibuat, membuat fungsi atau service yang bersumber dari bisnis proses operasional,
kegiatan testing modul aplikasi.
Sampai di-releasenya sistem tersebut, menjadikan satuan waktu (Jam, Hari, minggu, bulan atau tahun) sebagai indikator berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun sistem tersebut. Pilihan Arsitektur yang tepat akan mempermudah dan mempercepat proses pembuatan modul-modul penunjang sistem yang terpadu.
2. Fleksibelitas
Arsitektur (yang melibatkan beberapa komponen) secara ideal jika terjadi proses perubahan di satu bagian tidak berpengaruh di bagian yang lain. Keuntungan ini memungkinkan Developer bekerja secara serentak/paralel dalam membangun komponen/lapisan dari suatu sistem.
3. Skalabilitas
Berkenaan dengan peningkatan kebutuhan dari user sebagai dampak dari berkembangnya kegiatan di sisi operasional.
Sistem yang baik dapat tumbuh dengan penambahan layanan, jumlah klien dan penambahan resource sebagai bagian Arsitektur aplikasi.
4. Reuseable
Fungsi dan procedure sebagai komponen pembentuk layanan, dalam konsep pengembangan sistem kedepannya dapat digunakan kembali.
(more…)